Konsep-Konsep IPS (Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi) Dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global



BAB I
Pendahuluan

       I. Latar Belakang
Pada dasarnya manusia hidup adalah saling membutuhkan, saling bergantung dengan manusia yang lainnya dapat juga dikatakan sebagai hubungan sosial.  Menurut Nursid Sumaatmadja (2006) pengalaman atau pengetahuan yang melekat pada diri seseorang tersebut dapat dirangkum sebagai pengetahuan sosial. Tujuan utama Pendidikan IPS adalah menyiapkan peserta didik sebagai anggota  masyarakat dan warga Negara yang baik serta memberi dasar pengetahuan sosial untuk kelanjutan jenjang diatasnya. Di Perguruan  Tinggi, IPS memberikan kepada para mahasiswa agar supaya menghasilkan guru IPS yang dapat menguasai konsep-konsep dasar secara esensial tentang ilmu-ilmu sosial dan mampu membelajarkan kepada peserta didiknya secara bermakna (Udin S. Winaputra . 2003).
IPS sebagai Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial yang dikembangkan dalam bentuk kurikulum akademik atau kurikulum disiplin yang memakai nama disiplin Ilmu, contohnya Geografi, Ekonomi, sejarah, sosiologi, dan antropologi secara terpisah.


        II. Rumusan Masalah

       1. Bagaimana konsep geografi dalam konteks lokal, nasional, dan global ?
       2. Bagaimana konsep sejarah dalam konteks lokal, nasional, dan global ?
       3. Bagaimana konsep ekonomi dalam konteks lokal, nasional, dan global ?
 4. Bagaimana konsep sosiologi dalam konteks lokal, nasional, dan global ?
 5. Bagaimana konsep antropologi dalam konteks lokal, nasional, dan global ?
 6. Apa perbedaan dari nilai dan sikap ?
 7. Bagaimana hubungan antara nilai, sikap ,dan prilaku ?
 8. Bagaimana contoh cara menanamkan nilai dan sikap dalam pembelajaran IPS ?

       III. Tujuan
Untuk mengetahui konsep pembelajaran IPS (Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, dan Antropologi) dalam konteks lokal, nasional, dan global serta mengembangkan keterampilan nilai dan sikapnya kepada peserta didik..


BAB II
Pembahasan
Konsep-Konsep IPS (Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi) Dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global

       A. Menumbuhkan Kepekaan Sosial melalui Belajar IPS
Dewasa ini kepedulian sosial warga masyarakat terasa sudah mulai sangat menurun. Antara anggota masyarakat yang lain rasa kerjasama atau gotong royong yang pernah dilaksanakan oleh generasi kita dahulu sudah mulai luntur.
Nilai-nilai hidup yang penuh dengan rasa kebersamaan, rasa simpati, dan empati pada orang lain, rasa saling menghormati dan rasa toleransi sekarang ini sudah mulai memudar. Pergaulan di masyarakat antara yang muda dengan yang lebih tua juga sudah mulai meninggalkan etika pergaulan yang dalam bahasa jawa disebut unggah-ungguh. Perilaku hidup yang menonjolkan sikap individual dan kompetitif lebih banyak ditampilkan daripada berprilaku dengan penuh kebersamaan dan toleransi. Apabila ada pekerjaan yang membutuhkan kerjasama dengan uang untuk menghargai pekerjaan secara professional.
Pada anak-anak usia sekolah dasar akan sangat baik untuk dibiasakan hidup gotong royong dan bekerjasama melalui bimbingan dan tugas dari guru. Melalui konsep-konsep ilmu sosial sebagai dasar pengajaran IPS siswa diberi pengetahuan dan keterampilan untuk dapat bersikap dan menjawab tantangan serta problematika sosial yang ada dilingkungan siswa. Guru IPS harus dapat melihat isu-isu dan permasalahan sosial yang sedang berkembang, khususnya di lingkungan siswa guna dijadikan bahan mengajar dikelas. Hal ini juga akan membuat mata pelajaran IPS menarik perhatian siswa dikarenakan belajar IPS tidak hanya berupa hafalan dari buku, tetapi langsung memecahkan persoalan sosial yang sedang dihadapi siswa dilingkungannya.

       B. Konsep Geografi dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global
Secara harfiah geografi, berarti lukisan atau tulisan tentang bumi.  Menurut Richard Hartshorne, geografi berkenaan dengan penyajian deskripsi sifat permukaan bumi yang bervariasi secara tepat (akurat), berurutan, dan rasional. Sedangkan menurut Panitia Ad Hoc Geografi, menyatakan bahwa geografi mencoba menjelaskan bagaimana subsistem lingkungan alam terorganisasi di permukaan bumi, dan bagaimana manusia tersebar di permukaan bumi, itu dalam hubungannya dengan gejala alam dan dengan sesama manusia.
Dari dua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa geografi berkenaan dengan gejala yang terdapat dipermukaan bumi, baik gejala alam, lingkungan maupun manusia yang meliputi sifat-sifat, penyebaran serta hubungannya satu sama lain. Geografi selau meninjau lokasinya dalam ruang yang disebut permukaan bumi termasuk proses, perubahan, dan perkembangannya..
Geografi adalah ilmu keruangan yang mengkaji berbagai fenomena dalam konteks keruangannya. Ruang yang dikonsepkan dalam geografi yaitu permukaan bumi yang tiga dimensi terdiri atas muka bumi yang berupa darat atau perairan serta udara diatasnya.
Ruang dalam geografi adalah meliputi lapisan atmosfer sampai ketinggian tertentu, lapisan batuan sampai kedalam tertentu, lapisan air, dan proses alamiah yang terjadi didalamnya. Oleh karena itu, konsep geografi adalah konsep keruangan yang bertahap dari tingkat lokal, regional, sampai global.
Melalui proses pengamatan perspektif global,anda dapat menyaksikan bahwa perkampungan satu dengan yang lain menjadi bersambung membentuk perkampungan yang lebih luas dari perkampuangan-perkampungan semula. Sebagai penghubung perkampungan satu dengan perkampungan yang lainnya, yaitu adanya jalan, alat angkutan atau transportasi, juga karena arus manusia dan barang.
Disini terjadi proses sosial ekonomi dalam bentuk interaksi antar penduduk (manusia) dan saling ketergantungan (interdepedensi) barang-barang kebutuhan sehari-hari. Dalam keadaan yang demikian, perspektif geografi anda tidak lagi hanya terbatas pada ruang yang disebut kampung atau perkampungan melainkan terdorong pada kawasan-kawasan yang lebih luas.

       C. Konsep Sejarah dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global
Sejarah dan geografi merupakan ilmu “Dwitunggal” artinya jika sejarah mempertanyakan suatu peristiwa itu “kapan” terjadi, pengungkapan itu masih belum lengkap, jika tidak dipertanyakan “dimana” tempat terjadinya. Dalam hal ini, dimensi waktu dengan ruang saling melengkapi.
Konsep sejarah mengacu pada konsep waktu, terutama waktu yang telah lampau. Dari sudut pandang sejarah dalam konteks global, tentang tokoh-tokoh, bangunan-bangunan, perang, pertemuan internasional, dan peristiwa-peristiwa bersejarah memiliki dampak luas terhadap tatanan kehidupan global dapat dimunculkan dalam pendidikan sebagai acuan transformasi budaya serta pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda untuk memasuki kehidupan global dimasa yang akan datang.
Bangunan-bangunan bersejarah seperti Ka’bah dan Masjidil Haram di Mekah, Piramida di Mesir, adalah beberapa bangunan Keajaiban Dunia , tidak hanya bernilai dan bermakna sejarah, melainkan memiliki nilai global yang mempersatukan umat.
       D. Konsep Ekonomi dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global
Menurut H. W Arndt dan Gerardo P. Sicat (Nursid Sumaadmadja), Ilmu ekonomi adalah suatu studi ilmiah yang mengkaji bagaimana orang perorang dan kelompok-kelompok masyarakat menentukan pilihan.
Untuk memuaskan bermacam-macam keinginan yang tidak terbatas, namun sumber daya yang dapat digunakan terbatas. oleh karenanya, sumber daya ini langka dan mempunyai berbagai kegunaan alternatif. Pilihan penggunaan dapat terjadi antara penggunaan sekarang (hari ini) dan penggunaan hari esok (masa depan).
Pembahasan ilmu ekonomi menyangkut beberapa aspek yang meliputi :
1. Menentukan pilihan
2. Keinginan yang tidak terbatas
3. Persediaan sumber daya terbatas, bahkan ada yang langka
4. Kegunaan alternatif sumber daya
5. Penggunaan hari ini dan hari esok
Telah jelas bahwa konsep ekonomi terkait dengan waktu, hari ini, dan hari esok. Sedangkan apa yang diprediksikan berkenaan dengan keinginan yang cenderung tidak terbatas, persediaan sumber daya terbatas bahkan langka, dan adanya penggunaan alternatif sumber daya.
Sumber daya yang sifatnya tidak terbarukan akan habis sekali pakai sehingga persediaannya makin terbatas. sedangkan pihak lain, kebutuhan terus meningkat karena pertumbuhan penduduk, dan keinginan yang cenderung tidak terbatas. kesenjangan ini bukan bersifat lokal atau regional, melainkan telah menjadi masalah global. Disini dituntut kiat-kiat ekonomi untuk menciptakan keseimbangan antara konsumsi disatu pihak, dan diproduksi dilain pihak. Salah satu kiat itu, bagaimana kemajuan dan penerapan iptek berupaya mencari jalan keluar dari masalah tersebut.
Dilema besar yang paling utama pada saat ini yaitu bahwa penduduk dunia telah sampai pada ketergantungan terhadap teknologi untuk mempertahankan dan menopang kehidupan-kehidupan secara berkelanjutan. Dalam menghadapi dilema yang demikian, kebutuhan kita sebagai manusia menjadi tiga kali lipat yaitu pertama kita harus menguasai teknologi tersebut, kedua menstabilkan penduduk, dan ketiga mengembangkan tatanan sosial yang mampu hidup produktif dan sejahtera secara terpadu, dengan mengekosistemkan yang seimbang.
       E. Konsep Sosiologi dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global
             1.Pengertian Sosiologi
            Menurut Pitirin Sorokin, sosiologi  adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama, dll). Selo Sumardjan menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Selanjutnya ia menyatakan bahwa struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah sosial(norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, serta lapisan-lapisan sosial.
            Jadi sosiologi merupakan ilmu sosial yang obyeknya adalah masyarakat,dan merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, dengan ciri-ciri utamanya adalah :
       a)      Sosiologi bersifat empirik
       b)      Sosiologi bersifat teoritis
       c)      Sosiologi bersifat nonetis
            Secara singkat dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat dalam keseluruhannya dan hubungan-hubungan antara orang-orang dalam masyarakat. Kelanjutan interaksi sosial terjadi interelasi sosial yang akhirnya membentuk kelompok sosial. Kelompok-kelompok sosial ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan individu, oleh karena itu merupakan bagian yang aktif yang berinteraksi dari kelompok-kelompok sosialnya.
2. Ruang Lingkup Sosiologi
Dalam sosiologi obyek yang menjadi sorotan utamanya adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antara manusia, terutama dalam lingkungan yang terbentuk oleh manusia sendiri, atau yang disebut dengan lingkungan sosial. Apabila hubungan tersebut ditimbulkan oleh manusia yang aktif satu sama lain, maka akan terjadi interaksi sosial.
Berhubungan dengan ruang lingkup, walaupun dalam sosiologi ada banyak pengkhususan atau spesialisasi yang berhubungan dengan bagian dari kehidupan sosial, dimana sosiologi dapat dipandang sebagai satu keseluruhan dari kelompok-kelompok ilmu sosial, tetapi dilihat dari ruang lingkupnya, sosiologi mempunyai ciri-ciri tertentu.
3. Konsep Sosiologi dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global
Sebagai dampak kemajuan, penerapan, dan pemanfaatan Iptek di bidang transportasi dan komunikasi, interaksi sosial makin intensif dan makin meluas. Berkembangnya jaringan jalan, baik jalan darat, laut, dan udara interkasi sosialnya makin cepat dan meluas. Kemajuan, penerapan, dan pemanfaatan media elektronik (TV, Radio, telepon, dan internet) telah makin mengintensifkan interaksi sosial tersebut, walaupun tidak secara langsung. Salah satu dampaknya yaitu pakaian, makanan, peralatan, tidak hanya dikenal dan digunakan oleh masyarakat tertentu, tetapi telah memasuki segala lapisan masyarakat secara lokal, nasional, maupun global.
Tatanan nonmaterial juga mengalami pergeseran, misalnya bersalaman, tepuk punggung, tegur sapa ala Eropa, sampai dengan berciuman antar keluarga, antar teman, dan sebagainya. Jenis permainan dan olahraga yang dahulu termasuk tradisional, sekarang berkembang tidak hanya dinegerinya sendiri tetapi sudah menyebar kesegala penjuru dunia, misalnya kesenian gamelan, kungfu, dan lain lain.
Pertukaran pemuda pelajar dan pertandingan olahraga, pertemuan pramuka tingkat daerah, nasional, serta antar negara merupakan interaksi yang meluas. Hal seperti itu akan berdampak lokal, nasional, maupun global, misalnya yang berdampak positif pertukaran pengalaman, kemampuan, dan nilai. Sebagai akibat interaksi sosial yang semakin intensif sampai ke tingkat global menunjukkan perubahan sosial dimasyarakat sampai ke proses modernisasi. Perubahan dan kemajuan yang positif dapat meningkatkan kesejahteraan, sedangkan  yang berdampak negatif harus kita waspadai, jika perlu kita cari cara pemecahannya.

F. Konsep Antropogi dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global
1.Pengertian Antropologi
Secara harfiah antropologi, adalah ilmu tentang manusia, yaitu ilmu yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk masyarakat. Artinya bahwa manusia dapat ditinjau dari dua segi yaitu sudut biologi dan sudut sosiobudaya. Antropologi, khususnya antropologi budaya oleh Koentjaraningrat dikatakan sebagai pengganti ilmu budaya, merupakan studi tentang manusia dan kebudayaannya. Menurut Koentjaraningrat dalam perkembangannya, antropologi dibagi atas empat fase:
Fase pertama (sebelum tahun 1800), merupakan kisah perjalanan atau laporan-laporan yang merupakan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa diluar Eropa.
Fase kedua (kira-kira pertengahan abad ke-19), timbul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat. Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berkembang secara lambat (evolusi) dalam jangka waktu yang sangat lama, atau dari bentuk yang belum beradab sampai bentuk masyarakat tertinggi.
Fase ketiga (permulaan abad ke-20), pada saat ilmu antropologi dirasa penting karena bangsa Eropa sedang melancarkan penjajahannya diluar Eropa. Sehingga antropologi menjadi ilmu praktis untuk penjajah.
 Fase keempat (sesudah kira-kira tahun 1930), antropologi mengalami perkembangan luas , karena  bertambahnya pengetahuan dan ketajaman metode ilmiahnya. Mengenai tujuan antropologi pada fase keempat ini adalah :
a) Akademikal
b) Praktis

2. Ruang Lingkup Antropologi
Dilihat dari sudut antropologinya, manusia dapat ditinjau dari dua sudut yaitu sudut biologi dan sudut sosio-budaya. Cara peninjauannya tidak terpisah-pisah melainkan holistik artinya merupakan satu kesatuan fenomena bio-sosial. Di Amerika Serikat, Antropologi telah berkembang luas hingga ruang lingkup dan batas lapangan penyelidikannya paling sedikit mempunyai lima masalah penelitian khusus yaitu :
a) Sejarah asal dan perkembangannya manusia secara biologis
b) Sejarah terjadinya aneka ragam makhluk manusia, dipandang dari sudut cirri-ciri tubuhnya
c) Sejarah asal, perkembangan dan penyebaran aneka ragam bahasa yang diucapkan manusia diseluruh dunia
d) Perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka ragam kebudayaan manusia di seluruh dunia
e) Mengenai asas-asas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar diseluruh dunia



3. Konsep Antropologi dalam Konteks Lokal, Nasional, dan Global
Pada hakikatnya, perkembangan aspek kehidupan apa pun yang mengarus mulai dari tingkat lokal sampai dampai tingkat global, dasarnya terletak pada budaya dengan kebudayaan yang menjadi milik otentik umat manusia. Makhluk hidup, selain manusia, tidak mungkin dapat mengubah tatanan kehidupannya sampai mengglobal.
Perkembangan aspek-aspek kehidupan manusia yang juga berkenaan dengan perkembangan aspek-aspek kehidupan manusia yang juga aspek-aspek kebudayaannya, kita telah melihat perspektif kebudayaan, menganalisi perkembangan kebudayaan dari masa yang lalu, hari ini, dan kecendrungannya dimasa yang akan datang. Salah satunya yang terus berkembang, baik perkembangan, penerapan, serta pemanfaatannya adalah iptek. Hanya saja disini wajib kita sadari bahwa iptek itu produk akal pikiran manusia sehingga jangan terjadi manusia seolah-olah dikendalikan iptek, justru sebaliknya manusia yang mengendalikan iptek.

G. Pentingnya Nilai dan Sikap dalam Pengajaran IPS
1. Pengertian Nilai dan Sikap
Menurut Purwodarminto dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nilai adalah harga, hal-hal penting atau berguna bagi manusia. Nilai atau sistem nilai adalah keyakinan, kepercayaan, norma, dan kepatuhan-kepatuhan yang dianut oleh seseorang atau kelompok masyarakat.
Adapun menurut Sandin, bahwa sistem nilai seseorang terdiri dari seperangkat asumsi-asumsi, pengertian-pengertian, keyakinan, dan komitmen kita untuk mengarahkan pilihan prilaku. Secara teoritis Sandin mengklasifikasikan nilai menjadi:
a. Nilai-nilai hedonik
b. Nilai-nilai estetika
c. Nilai etika
d. Nilai-nilai religious
e.  Nilai-nilai logika
Apabila dilihat dari sifatnya, nilai dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu :
a. Nilai yang memiliki sifat relatif stabil
b. Nilai sebagai suatu bentuk keyakinan
c. Nilai memiliki dua kategori yaitu nilai instrumental dan nilai terminal
d. Nilai-nilai disusun atau diorganisasikan kedalam bentuk suatu sistem nilai
Sehubungan dengan hal itu, Koentjaraningrat mengemukakan pengertian sistem nilai budaya yaitu suatu sistem nilai budaya yang terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap untuk bernilai dalam hidup. Oleh karena itu sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
Kita dapat menarik kesimpulan bahwa nilai secara umum merupakan ukuran tentang baik-buruk, tentang tata laku yang telah mendalam dalam kehidupan masyarakat. Nilai merupakan pencerminan budaya suatu kelompok masyarakat. Nilai apabila ditinjau sebagai sistem nilai, merupakan pedoman kehidupan masyarakat yang lebih tinggi tingkatnya daripada norma sosial, karena norma sosial itu juga bersumber dan berpedoman kepada sistem nilai.
2. Pembentukan Sikap
Dalam berbagai kasus kehidupan memang sukat dibedakan antara pembentukan sikap dan perubahan sikap. Sejalan dengan pendapat Freedman et.al, bahwa senantiasa sikap menjadi sasaran perubahan, walaupun suatu sikap sudah bertahan untuk jangka waktu yang lama. Ada tiga model belajar dalam rangka pembentukan sikap yaitu :
a. Mengamati dan meniru
b. Menerima penguatan
c. Menerima informasi verbal
3. Teori Perubahan Sikap
Teori perubahan sikap itu ada bermacam-macam, yaitu :
a. Teori Pembelajaran (Learning Theory)
Teori pembelajaran melihat perubahan sikap sebagai suatu proses pembelajaran. Teori ini tertarik pada ciri-ciri dan hubungan antara stimulus dan respon dalam suatu proses komunikasi. Menurut Yale (the Yale communication and change program), yaitu program komunikasi dan perubahan sikap, telah memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan teori ini.
Program Yale mengidentifikasi unsur-unsur dalam proses pembujukan, yang dapat memberi pengaruh terhadap sikap seseorang. Menurut program Yale, ada empat unsur dalam proses pembujukan yang dapat mempengaruhi perubahan sikap yaitu :
1) Penyampai, sebagai informasi baru
2) Komunikasi atau informasi yang disampaikan
3) Penerima
4) Situasi
b.Teori Fungsional ( Functional Theory)
Teori fungsional mengasumsikan bahwa manusia mempertahanan sikap yang sesuai dengan kebutuhan dirinya sendiri. Perubahan sikap terjadi dalam rangka mendukung suatu maksud atau tujuan yang ingin dicapainya. Berdasarkan teori ini, sikap merupakan alat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, untuk merubah sikap seseorang , terlebih dahulu harus dipelajari dan diketahui kebutuhan khusus atau tujuan khusus yang ingin dicapai.
Memenuhi teori fungsional, perubahan sikap terjadi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan individu. Ada beberapa fungsi sikap dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan individu, yaitu :
1) Sebagai alat (instrumental),
2) Sebagai pertahanan diri (ego-defensive),
3) Sebagai pernyataan nilai (value-expressive),
4) Sebagai pengetahuan ( knowledge),

c.Teori Pertimbangan Sosial
Menurut teori ini, perubahan sikap merupakan suatu penafsiran kembali atau pendefinisian kembali terhadap obyek. Sikap adalah sebagai suatu daerah posisi dalam suatu skala, yang mencakup ruang gerak  penerimaan (latitude of acceptance), ruang gerak tidak pasti (letitude of noncommitment), dan ruang gerak penolakan (latitude of rejection).

H. Hubungan Antara Sikap, Nilai, dan Prilaku
Hubungan antara sikap dengan nilai, sebagian pakar psikologi berpendapat bahwa nilai lebih bersifat global daripada sikap lain. Pendapat lain mengatakan nilai merupakan sasaran yang lebih abstrak, yang ingin dicapai oleh seseorang. Oleh karena itu, nilai tidak mempunyai obyek yang spesifik , seperti dalam sikap.
Nilai mempengaruhi pembentukan dan arah sikap seseorang. Nilai juga dapat mempengaruhi prilaku dan perbuatan seseorang dengan mempengaruhi sikap dan penilaian terhadap konsekuensi daripada prilaku dan perbuatan seseorang tersebut. Melalui proses inilah , nilai dapat dilihat sebagai kunci bagi lahirnya prilaku dan perbuatan seseorang. Oleh karena itu, pengajaran dan penanaman nilai merupakan hal penting dalam rangka pembinaan sikap dan kepribadian siswa.
Perilaku (behavior) dapat didefinisikan sebagai proses memberi reaksi terhadap suatu stimulus dalam lingkungan, yang bermanfaat bagi kehidupan. Perilaku juga dapat diartikan sebagai suatu aktivitas anggota badan. Berdasar batasan ini prilaku merujuk kepada kegiatan lahir yang dapat diamati dengan pancaindera. Namun demikian prilaku juga dapat merujuk kepada aktivitas internal yang tidak dapat dilihat misalnya berpikir.  Sikap pada hakikatnya merupakan prilaku internal. Individu dapat mengekspresikan sikap sebagai prilaku internal dalam bentuk prilaku eksternal.
Nilai dan sikap merupakan dua faktor penting yang menentukan prilaku seseorang. Konsistensi hubungan antara sikap dan prilaku ditentukan oleh dua faktor yaitu motivasi dan kesempatan. Jika seseorang memiliki motivasi yang kuat untuk berpikir tentang sesuatu obyek serta memiliki kesempatan untuk berbuat, maka sikap akan memberi pengaruh kepada prilakunya. Pendapat tersebut sejalan dengan teori “reasoned action” yang menyatakan bahwa sikap dan nilai subyektif secara bersama-sama menentukan munculnya suatu prilaku.
I.Penanaman Nilai dan Sikap dalam Pengajaran IPS
Penanaman sikap atau sikap mental yang baik melalui pengajaran IPS, tidak dapat dilepaskan dari mengajarkan nilai dan sistem nilai yang berlaku dimasyarakat. Dengan kata lain, strategi pengajaran nilai dan sistem nilai pada IPS bertujuan untuk membina dan mengembangkan sikap mental yang baik.
Materi dan pokok bahasan pada pengajaran IPS dengan menggunakan berbagai metode , digunakan untuk membina penghayatan, kesadaran, dan pemilikan nilai-nilai yang baik pada diri siswa. Dengan terbinanya nilai-nilai secara baik dan terarah pada mereka, sikap mentalnya juga akan menjadi positif terhadap rangsangan dan lingkungannya, sehingga tingkah laku dan tindakannya  tidak menyimpang dari nilai-nilai luhur.


BAB III
Penutup

       A. Kesimpulan
Konsep geografi atau keruangan itu, tidak lagi melihat kawasan lokal semata, melainkan telah menjangkau kawasan yang lebih luas. Oleh karena itu, konsep geografi ini dapat disebut sebagai tingkat regional.
Konsep sejarah mengacu pada konsep waktu, terutama waktu yang telah lampau. Dari sudut pandang sejarah dalam konteks global, tentang tokoh-tokoh, bangunan-bangunan, perang, pertemuan internasional, dan peristiwa-peristiwa bersejarah memiliki dampak luas terhadap tatanan kehidupan global dapat dimunculkan dalam pendidikan sebagai acuan transformasi budaya serta pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda untuk memasuki kehidupan global dimasa yang akan datang.
Sumber daya yang sifatnya tidak terbarukan akan habis sekali pakai sehingga persediaannya makin terbatas. sedangkan pihak lain, kebutuhan terus meningkat karena pertumbuhan penduduk, dan keinginan yang cenderung tidak terbatas. kesenjangan ini bukan bersifat lokal atau regional, melainkan telah menjadi masalah global.
Akibat interaksi sosial yang semakin intensif sampai ke tingkat global menunjukkan perubahan sosial dimasyarakat sampai ke proses modernisasi. Perubahan dan kemajuan yang positif dapat meningkatkan kesejahteraan, sedangkan  yang berdampak negatif harus kita waspadai, jika perlu kita cari cara pemecahannya.
Pada hakikatnya, perkembangan aspek kehidupan apa pun yang mengarus mulai dari tingkat lokal sampai dampai tingkat global, dasarnya terletak pada budaya dengan kebudayaan yang menjadi milik otentik umat manusia. Makhluk hidup, selain manusia, tidak mungkin dapat mengubah tatanan kehidupannya sampai mengglobal.
Nilai mempengaruhi pembentukan dan arah sikap seseorang. Nilai juga dapat mempengaruhi prilaku dan perbuatan seseorang dengan mempengaruhi sikap dan penilaian terhadap konsekuensi daripada prilaku dan perbuatan seseorang tersebut. Melalui proses inilah , nilai dapat dilihat sebagai kunci bagi lahirnya prilaku dan perbuatan seseorang. Oleh karena itu, pengajaran dan penanaman nilai merupakan hal penting dalam rangka pembinaan sikap dan kepribadian siswa.


























DAFTAR PUSTAKA
Bimo Walgito. (1983). Psikologi Sosial, Suatu Pengantar. Yogyakarta ; Fakultas
Psikologi UGM.
Djojo Suradisastra, dkk. (1991/1992). Pendidikan IPS III. Jakarta ; Proyek
Pembinaan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti.
Dwi Siswoyo, dkk. 2005. Metode Pengembangan Moral Anak Pra Sekolah.
Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
Fisher. H. TH. 1980. Pengantar Anthropologi Kebudayaan Indonesia. (Terjemahan
Anas Makruf). Jakarta : P.T. Pembangunan
Hidayati. 2002. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Di Sekolah Dasar. Yogyakarta:
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
Husein Achmad, dkk. (1982). Konsep-konsep Ilmu Pengetahuan Sosial. Yogyakarta ;
FKIS IKIP.
Kardiyono. (1980). Mengajar Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta ; P3G
Departemen P dan K.
Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Anthropologi. Yogyakarta: Rineka Cipta
Kosasih Djahiri dan Fatimah Ma’mun. (1978/1979). Pengajaran Studi Sosial / Ilmu
Pengetahuan Sosial. Bandung ; LPP-IPS IKIP.
Kurikulum 2004. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial.
Jakarta: Depdiknas.
Margaret M. Poloma.1999. Sosiologi Kotemporer. Jakarta: P.T. Raja Grafindo
Persada
Nursid Sumaatmadja. (1980). Metodologi Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
Bandung ; Alumni.
Paul Suparno, SJ,dkk. (2001). Mendalami Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah.
(Makalah Seminar). Yogyakarta ; Kanisius.
Paul Suparno, SJ, dkk.. 2002. Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah. Yogyakarta:
Kanisius
Seamolec. 2006. Kapita Selekta Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas
Siti Partini Suardiman. (1984). Psikologi Sosial. Jakarta ; Studying.
Suwardi Endraswara. 2003. Budi Pekerti dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: P.T.
HaninditaGraha Widya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Kelas III

Observasi ke Sekolah Dasar Negeri 28 Kecamatan Pontianak Utara

Praktikum IPA Pengukuran